Bimbingan perguruan tinggi mempercepat proses transfer ilmu pengetahuan dan teknologi.
KENTINGAN, Jebres | Adalah Hari Belajar Guru. Sebuah kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sedari 2025, berupa waktu khusus bagi para guru untuk penguatan kompetensi berkelanjutan, tanpa mengganggu kegiatan belajar-mengajar.
Dilaksanakan sekali setiap minggunya dengan jadwal yang disepakati, Hari Belajar Guru memberikan kesempatan bagi guru untuk melakukan refleksi, kolaborasi, pelatihan, dan pengembangan perangkat ajar. Bentuk kegiatannya pun bermacam, mulai dari berbagi praktik baik, kajian kurikulum, diskusi pedagogik, hingga pelatihan teknologi.
Hari Belajar Guru dimaksudkan untuk menjadikan belajar sebagai budaya. Guru dapat berfokus pada pengembangan diri, sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pada Senin (13/4/2026), Brams Institute menggelar Bedah Buku Hari Belajar Guru di de’Lima Solo. Bedah karya karya Bramastia, Syahwa Adila Gepsi, dan Zayyana Finaul Jannah dan diterbitkan Penerbit Pandiva tersebut menghadirkan narasumber kompeten, Kepala Program Studi S3 Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Sariyatun.
“Pendidikan menjadi tulang punggung kemajuan suatu bangsa, dan guru berperan sentral sebagai agen perubahan serta pembentuk karakter generasi penerus. Kualitas pendidikan juga bergantung kepada profesionalisme guru, yang mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional,” terang Pendiri Brams Institute, Bramastia.
Ia berpandangan, upaya pengembangan kapasitas guru perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Salah satu bentuk nyatanya adalah pelaksanaan Hari Belajar Guru (HBG) yang mendorong para guru menjadi pembelajar sepanjang hayat serta memperkuat praktik pembelajaran yang reflektif, kolaboratif, dan kontekstual.
“Bedah buku ini membahas implementasi Hari Belajar Guru dari kacamata kritis-konstruktif,” ucap akademisi UNS ini.
Terobosan Strategis
Dalam Pengantar Buku Hari Belajar Guru, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, menekankan peran vital guru sebagai agen perubahan yang harus beradaptasi dengan tantangan pendidikan abad ke-21.
Menurut Prof Nunuk, begitu ia akrab disapa, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, guru dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memiliki kemampuan kreatif, inovatif, dan kolaboratif.
“Program Hari Belajar Guru dihadirkan sebagai momentum penting bagi para pendidik untuk berefleksi sejenak dari rutinitas serta mengeksplorasi pendekatan pembelajaran yang lebih relevan dan efektif bagi generasi penerus bangsa,” tulisnya.
Lebih jauh, Prof Nunuk mendorong agar kolaborasi melalui komunitas belajar, seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), dijadikan sebagai budaya untuk saling berbagi praktik baik dan memperkuat kapasitas profesional.
“Saya berharap, Hari Belajar Guru bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi ruang berkelanjutan bagi guru untuk terus terbuka terhadap perubahan. Inisiatif ini diharapkan mampu menjadi penggerak utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui semangat belajar dan kolaborasi yang melekat pada setiap tenaga pendidik,” pesannya optimis.
Sementara itu, ketika membedah buku Hari Belajar Guru, Prof Sariyatun berpendapat bahwa lahirnya kebijakan Kemendikdasmen melalui Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru yang menerbitkan sebuah Surat Edaran Nomor 5684/MDM.B1/HK.04.00/2025 tentang Hari Belajar Guru merupakan terobosan strategis dalam meningkatkan kompetensi pendidik secara berkelanjutan.
Demi Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), ia menilai bahwa konsep Hari Belajar Guru dalam Perspektif Sains bukan sekadar kegiatan, tetapi berbasis pendekatan ilmiah (scientific approach).
“Konsep ini sangat ideal, namun implementasinya membutuhkan dukungan sistem yang kuat, terutama dalam hal waktu dan budaya kolaborasi,” ucapnya.
Prof Sariyatun menjelaskan, beberapa karakter penting Hari Belajar Guru, yakni berbasis kebutuhan dan konteks praktik mengajar, mendorong pembelajaran mandiri dan kolaboratif, mendukung siklus refleksi dan aksi, serta mendorong inovasi dan eksplorasi ilmiah.
Sementara, kontribusi kajian sains terhadap pelaksanaan Hari Belajar Guru, sambungnya, antara lain mengadopsi pendekatan saintifik dalam pengembangan profesional, membangun budaya refleksi berbasis bukti, mendukung proses inkuiri dalam Komunitas Belajar Guru, memperkuat keterampilan metakognitif guru serta mengintegrasikan evidence-based practice.
Bimbingan Perguruan Tinggi
Diskusi bedah buku Hari Belajar Guru mendapatkan tanggapan antusias dari peserta, baik dosen, guru, mahasiswa, maupun pemerhati pendidikan. Dimas Fahrudin, salah satu peserta, mengusulkan agar pelaksanaan Hari Belajar Guru melibatkan akademisi dari perguruan tinggi (PT) sebagai pembimbing atau mentor dalam Pemberdayaan Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), dan Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS).
“Diharapkan dapat lebih mempercepat transfer ilmu pengetahuan dan teknologi serta mempercepat implementasi kebijakan dari pusat ke daerah,” saran alumnus S2 Pendidikan Sains yang kini menempuh Studi Doktoral Pendidikan IPA FKIP UNS Surakarta.
Acara yang berlangsung khidmat, meski suasananya tetap santai, itu dipungkasi dengan foto bersama. Kesuksesan acara di antaranya karena dukungan Kepala Program Studi S2 Pendidikan Sains FKIP UNS Surakarta, Puguh Karyanto, dengan melibatkan mahasiswa pascasarjana sekaligus kolaborasi penyelenggara, Brams Institute.
Share
Copyright © Pandiva | All rights reserved. Website by JMW